Makin Hadir Sebagai Pendamping, Apakah Kita Bisa Sepenuhnya Percaya AI?

IDC memotret AI yang makin hadir sebagai pendamping, dari ruang AI , verifikasi konten, pendamping emosional, keamanan rumah, fesyen personal, hingga augmented reality lokal, dengan kepercayaan sebagai penentu utama.

Perubahan cara orang memakai teknologi pada 2026 tidak digerakkan oleh satu penemuan tunggal, melainkan oleh bertemunya banyak hal sekaligus. Kecerdasan buatan yang dulu terasa seperti hal baru kini mulai hadir sebagai pendamping yang menyatu dengan rutinitas. 

Bagi banyak orang, game tidak lagi hanya soal permainan, tetapi soal rasa hadir bersama. Dunia virtual berkembang menjadi ruang pertemuan baru, dan batas antara pembuat konten serta penonton ikut memudar karena pengguna bisa ikut membangun pengalaman, bukan sekadar menonton.

Di sisi lain, melimpahnya konten buatan mesin memunculkan kebutuhan baru yang justru langka, yaitu rasa percaya. Ketika siapa pun dapat membuat konten yang terlihat profesional hanya lewat instruksi singkat, pertanyaannya bergeser menjadi apakah sebuah konten layak dipercaya. 

AI juga ikut mengubah makna teman bicara. Banyak orang mulai memakai pendamping AI untuk dukungan emosional dan refleksi diri, karena aksesnya lebih mudah dan biayanya terasa lebih ringan dibanding opsi lain. 

Jaringan rumah yang dulu hanya kumpulan perangkat dan kata sandi mulai berubah menjadi ekosistem yang dikelola, dan perlindungan digital dipandang sebagai kebutuhan harian, mirip layanan utilitas rumah tangga. Namun juga perlu diketahui, jaringan yang melindungi keluarga dapat mengumpulkan lebih banyak data perilaku daripada sebelumnya, sehingga muncul keseimbangan rumit antara rasa aman dan risiko pengawasan.

Pada ranah fesyen, AI disebut mampu mempelajari selera pemakai lebih cepat daripada pengguna menjelaskannya sendiri. Sistem desain dan personalisasi dapat membantu merek menekan limbah dan mengurangi pengembalian barang, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan tentang identitas. Jika algoritma ikut memilihkan gaya, teknologi bisa memperkuat keunikan seseorang, atau malah mendorong orang ke pilihan yang sempit karena data mengira itulah yang paling cocok.

IDC juga melihat augmented reality bergerak ke pengalaman yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar. Lapisan informasi digital dapat menampilkan seni lokal, sejarah, dan cerita komunitas saat orang berjalan di sekitar tempat tinggalnya, sehingga teknologi tidak hanya soal hiburan, tetapi juga soal kedekatan dengan ruang hidup. 

Pada akhirnya, kepercayaan menjadi pembeda utama. Masa depan tidak hanya menilai kemudahan, tetapi juga menilai privasi, keaslian, dan tujuan. Karena itu, penyedia teknologi perlu memimpin dengan keterbukaan, pengelolaan data yang bertanggung jawab, dan pengalaman AI yang memberi daya pada pengguna tanpa mengarahkan pilihan mereka secara sepihak.