Kalau kamu berpikir AI yang sekarang sudah cukup pintar, maka kamu salah. Vendor AI berambisi melahirkan AI generasi berikutnya, yaitu Artificial General Intelligence (AGI).
AI yang ada saat ini masih berada di level Artificial Narrow Intelligence (ANI), atau AI yang lemah. ANI hanya mahir melakukan satu tugas spesifik dan tidak mampu bekerja di luar pemrogramannya.
Penyedia AI sudah bergemuruh: AGI akan tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.
AGI adalah tingkatan AI yang memiliki kemampuan intelektual setara manusia untuk memahami, mempelajari, dan menerapkan logika di berbagai bidang. AI generasi berikutnya ini dirancang untuk memiliki kesadaran situasional dan fleksibilitas kognitif lintas disiplin.
Pada skala pengguna personal, AGI diramalkan akan menjadi asisten pendamping yang mampu mengelola rutinitas secara mandiri. AGI tidak hanya sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat mengantisipasi kebutuhan emosional dan praktis penggunanya melalui pemahaman konteks yang mendalam.
Bagi organisasi, efisiensi operasional diperkirakan mencapai titik puncak karena AGI mampu mengintegrasikan berbagai departemen tanpa hambatan komunikasi. Risiko kesalahan manusia dapat diminimalkan secara drastis, sementara kreativitas tetap terjaga melalui kolaborasi antara manusia dan mesin.
Karena mampu bertindak otonom, AGI akan terus-menerus mengumpulkan data yang relevan dengan konteks, lalu menganalisisnya untuk memberikan saran atau bahkan langsung bertindak jika diberikan kebebasan.
Apakah kita memerlukan mesin dengan tingkat kecerdasan setinggi ini? Penyedia AI mengatakan iya. Namun, jika hari ini AI masih kerap berhalusinasi, mungkin kekhawatiran kita belum sepenuhnya berlebihan.







