2026: Agentic Shopping Jadi Tren Baru Konsumen

Prediksi ritel 2026 menunjukkan pergeseran besar menuju AI agent, loyalitas lintas merek, layanan pelanggan proaktif, super agent rantai pasok, dan adopsi RFID untuk pengalaman belanja yang lebih terhubung.

Industri ritel melewati tahun 2025 dengan tekanan yang datang dari berbagai arah, mulai dari perubahan kebiasaan belanja hingga kemajuan kecerdasan buatan yang bergerak sangat cepat. Peritel tidak hanya dituntut memahami teknologi baru, tetapi juga menata ulang cara mereka berinteraksi dengan pelanggan di tengah ketidakpastian pasar dan kebijakan perdagangan global. 

Memasuki 2026, pengalaman tersebut menjadi dasar bagi perusahaan ritel untuk membangun sistem kerja yang lebih tanggap dan terstruktur. Dari proses pencarian produk hingga pengelolaan rantai pasok, teknologi mulai mengambil peran yang lebih aktif dalam pengambilan keputusan. 

Salesforce merangkum perubahan ini ke dalam lima prediksi utama yang menggambarkan bagaimana peritel akan menciptakan hubungan yang lebih erat dengan pelanggan sekaligus menjaga operasional tetap stabil.

Lima Prediksi yang Mengubah Cara Kerja Ritel

  1. Belanja Menggunakan AI Agent
    Asisten AI tidak lagi sekadar membantu riset produk, tetapi mulai berfungsi sebagai agen belanja yang mampu mengarahkan hingga menyelesaikan proses checkout di dalam satu aplikasi. Konsumen memanfaatkan agen ini untuk menghemat waktu, membandingkan harga, dan mendapatkan rekomendasi yang lebih relevan. Agar produk tetap terlihat, peritel perlu memastikan data katalog mereka mudah dibaca oleh sistem AI dan disajikan dalam bahasa yang alami.
  2. Program Loyalitas Berbasis Ekosistem
    Model loyalitas berkembang dari satu merek menjadi jaringan lintas peritel. Dalam sistem ini, pelanggan memperoleh manfaat dari berbagai merek yang tergabung dalam satu ekosistem, sehingga hadiah dapat dikumpulkan lebih cepat. Bagi perusahaan, pendekatan ini membuka akses ke data perilaku konsumen yang lebih luas dan memperbesar peluang menjangkau pelanggan baru melalui kemitraan strategis.
  3. Layanan Pelanggan yang Lebih Proaktif
    Layanan pelanggan menjadi penentu utama kesetiaan pembeli. Salesforce mencatat bahwa “77% konsumen menyatakan bahwa layanan pelanggan proaktif membuat mereka cenderung lebih loyal kepada sebuah merek atau peritel.” Pendekatan ini mencakup pemberian bantuan saat pelanggan mengalami kesulitan di halaman pembayaran atau pemberitahuan dini jika terjadi keterlambatan pengiriman. Tujuannya adalah mencegah masalah sebelum berkembang menjadi keluhan.
  4. Pemanfaatan Super Agent dalam Rantai Pasok
    Ketidakstabilan ekonomi dan ancaman keamanan mendorong peritel mencari cara baru untuk mengelola rantai pasok. Super agent hadir sebagai sistem yang mengoordinasikan berbagai AI agent khusus untuk menangani tugas logistik, keuangan, dan pelaporan secara terpadu. Meski banyak proses berjalan otomatis, peran manusia tetap dilibatkan ketika dibutuhkan untuk pengambilan keputusan tertentu.
  5. RFID Menjadi Standar Baru
    Teknologi RFID semakin banyak digunakan karena biayanya menurun dan akurasinya meningkat. Berbeda dengan kode batang, label RFID memungkinkan pemindaian banyak barang sekaligus tanpa kontak langsung. Dampaknya terlihat pada ketepatan stok, pengurangan kehilangan barang, hingga pengalaman belanja yang lebih mulus, termasuk pengecekan ketersediaan produk secara daring dan proses checkout yang lebih cepat di toko.