IDC memprediksi AI akan menciptakan nilai ekonomi global kumulatif US$22,5 triliun hingga 2031.
Peta industri kini mulai bergerak dari fase pembangunan infrastruktur menuju penerapan AI di tingkat operasional. IDC menilai pergeseran ini menjadi bagian dari siklus belanja teknologi terkuat dalam hampir 30 tahun, didorong oleh perkembangan AI dan maraknya AI agent.
Hingga 2031, AI diperkirakan menciptakan nilai ekonomi global kumulatif sebesar US$22,5 triliun.
Menurut IDC, nilai terbesar akan muncul ketika perusahaan mampu mengadopsi AI secara nyata dalam alur kerja, bukan hanya membangun fondasi teknologinya. Namun, sebagian besar perusahaan saat ini masih berada pada tahap awal transisi tersebut.
Dalam riset terbarunya IDC menyoroti lima area yang kini membentuk ekonomi AI.
- Dampak ekonomi AI terhadap produktivitas, model pendapatan baru, dan transformasi bisnis.
- Munculnya agentic buyer lifecycle yang mengubah proses discovery, evaluation, dan selection dalam pembelian B2B.
- Perluasan lanskap AI di luar LLM menuju pendekatan multi-model, multimodal, dan multi-agent.
- Hadirnya framework baru untuk mengukur business value AI.
- Munculnya AI agents sebagai model aplikasi baru bagi software dan layanan perusahaan.
Salah satu perubahan terpenting terlihat pada proses pembelian di tingkat perusahaan. IDC menyebut perjalanan pembelian kini bergeser dari proses yang sepenuhnya dipimpin manusia menuju sistem keputusan yang dimediasi AI. Dalam pola ini, agent makin berperan dalam menemukan, mengevaluasi, dan membantu memilih solusi yang relevan.
Perubahan itu membuat vendor harus menyesuaikan cara mereka tampil di pasar. IDC menilai visibilitas data terstruktur dan kemampuan dibaca oleh agent menjadi semakin penting. Artinya, perusahaan penjual tidak cukup hanya mengandalkan brand dan antarmuka pengguna, tetapi juga harus memastikan informasinya mudah dipahami oleh sistem AI.
Selain itu, IDC menegaskan bahwa pasar AI kini bergerak ke arah multi-model dan multi-agent. Perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan one model fits all. Mereka perlu menyiapkan strategi pemilihan model, tata kelola, dan orkestrasi yang lebih matang agar implementasi AI tetap efisien dan terkontrol.
IDC memperkirakan titik balik besar akan terjadi pada 2029, ketika AI bergeser dari fase training menuju inference at scale dan deployment agen mencapai miliaran. Pada fase itu, AI akan semakin tertanam dalam operasi perusahaan dan mengubah cara aplikasi dibangun, dijalankan, serta dimonetisasi.









