AI Gagal Di Perusahaan, Karena Departemen SDM Gagal Paham

Survei Gartner menunjukkan 65% karyawan tertarik menggunakan AI di tempat kerja. Artikel ini membahas peran CHRO dalam membangun kepercayaan, tata kelola, dan penggunaan AI yang berdampak bagi organisasi.

Minat karyawan terhadap penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan kerja ternyata jauh lebih positif dari yang selama ini diasumsikan oleh pimpinan perusahaan. Survei Gartner terhadap hampir tiga ribu karyawan menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja justru menantikan pemanfaatan AI untuk mendukung aktivitas mereka. 

Temuan ini membantah anggapan bahwa nilai bisnis AI sulit tercapai karena penolakan dari karyawan. Gartner menilai persoalan utama bukan pada sikap individu, melainkan pada cara organisasi memperkenalkan dan mengelola penggunaan AI di tempat kerja.

Gartner berkesimpulan bahwa keputusan penerapan AI sering diambil secara terburu-buru oleh jajaran eksekutif tanpa melibatkan fungsi sumber daya manusia. Kondisi ini membuat departemen SDM harus menangani dampaknya setelah teknologi berjalan, termasuk kebingungan karyawan dan perbedaan harapan antara manajemen dan tenaga kerja.

“Seringkali keputusan implementasi AI diambil tanpa melibatkan departemen SDM,” kata Eser Rizagolu, Senior Director, Analyst Gartner HR Practice. “Hal ini menyebabkan adopsi yang buruk, ekspektasi yang tidak sejalan antara karyawan dan eksekutif, dan pada akhirnya, organisasi tidak mendapatkan nilai bisnis yang signifikan dari AI.”

Untuk menangani situasi tersebut, Gartner menyarankan CHRO mendefinisikan ulang pendekatan penerapan AI dengan menempatkan pengalaman karyawan sebagai bagian dari tata kelola. Gartner mengidentifikasi tiga langkah utama yang dapat dilakukan.

  1. Menyusun ulang tata Kelola AI agar tidak hanya berfokus pada kepatuhan dan keamanan data, tetapi juga dampaknya terhadap cara karyawan bekerja.
  2. Menentukan karyawan yang memiliki rasa ingin tahu terhadap teknologi dan kemampuan kolaborasi untuk menjadi pengguna awal AI sekaligus peserta pembelajaran.
  3. Mengelompokkan karyawan berdasarkan sikap dan perilaku mereka terhadap AI guna membangun jalur pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Membuktikan Nilai AI melalui Kolaborasi Kerja

Dalam tahap pembuktian manfaat AI, Gartner menekankan pentingnya memilih kelompok karyawan yang tepat. CHRO disarankan bekerja sama dengan HR Business Partner dan pimpinan unit bisnis untuk membentuk tim uji coba berbasis kolaborasi. Gartner membagi karyawan ke dalam empat tipe yang paling diuntungkan dari AI.

  1. Consumer yang mengolah banyak informasi untuk mendukung pengambilan keputusan.
  2. Communicator yang menyusun pesan, penawaran, dan komunikasi internal maupun eksternal.
  3. Coordinator yang mengatur dan memprioritaskan alur kerja dari berbagai sumber.
  4. Creator yang mengubah data menjadi format atau bentuk baru.
    Kombinasi keempat peran ini membantu organisasi melihat dampak AI secara nyata pada kinerja individu dan tim.

Setelah penggunaan AI terbukti memberikan hasil, Gartner menilai langkah berikutnya adalah memperluas penerapan dengan pendekatan yang lebih terarah. CHRO perlu mengevaluasi pengalaman pengguna awal melalui survei dan data pemakaian untuk menilai kualitas serta ketepatan waktu hasil kerja. 

Data ini menjadi dasar untuk mengelompokkan karyawan berdasarkan pola adopsi, sehingga perluasan AI dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih relevan. Gartner menegaskan bahwa tingkat adopsi yang tinggi hanya dapat dicapai jika organisasi memahami perilaku tenaga kerjanya, bukan sekadar menyediakan teknologi.