AI Picu Era Gelap Penipuan Berkedok Asmara di Hari Valentine

Menjelang Valentine, penipuan berkedok asmara berevolusi menjadi operasi industrial dengan bantuan AI mulai dari chat yang meyakinkan hingga deepfake video call untuk menggiring korban ke penipuan investasi.

Menjelang Hari Valentine, penipuan berkedok asmara tidak lagi sekadar aksi pelaku tunggal. Temuan Tenable menunjukkan praktik ini kian terindustrialisasi, menyerupai operasi call center dengan skrip, target, dan peran yang terstruktur.

Satnam Narang, Senior Staff Research Engineer dari Tenable memperingatkan bahwa 2026 menjadi momen gelap penipuan berkedok asmara. AI membuat tipu daya terasa makin halus dan sulit dikenali, sehingga pelaku kini bisa menghasilkan pesan yang rapi, konsisten, dan emosional dengan biaya sangat murah.

Sebelumnya, tahap pendekatan memakan waktu lama karena penipu harus membangun kedekatan satu per satu. Kini, model AI membantu pelaku menjaga banyak percakapan sekaligus, menambal inkonsistensi cerita, dan menghapus red flag klasik seperti tata bahasa buruk.

Tenable menyorot bahwa toolkit pelaku mencakup layanan AI yang banyak digunakan seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude, serta AI open-source seperti DeepSeek dan Qwen. Model open-source dapat dijalankan di infrastruktur sendiri dan dimodifikasi, sehingga pelaku lebih leluasa menghindari pembatasan yang biasanya menolak permintaan terkait penipuan.

Empat kemampuan AI yang paling sering disalahgunakan dalam penipuan berkedok asmara termasuk:

  1. Otomatisasi pesan: menghasilkan chat yang meyakinkan, personal, dan konsisten untuk banyak target sekaligus.
  2. Deepfake/face-swapping: menyamarkan identitas saat video call agar tampak sesuai persona palsu.
  3. Pengalihan ke investasi: kedekatan emosional dipakai sebagai “jembatan” menuju ajakan investasi palsu.
  4. Pemanfaatan model open-source: dijalankan privat dan bisa dikustomisasi untuk melewati guardrails, sehingga produksi konten penipuan lebih bebas.

Narang menegaskan, pola paling menguntungkan kini menggabungkan manipulasi emosional dengan penipuan investasi romansa hanyalah pancingan. Di Amerika Serikat, FTC melaporkan konsumen kehilangan total sekitar US$5,7 miliar akibat penipuan berkedok investasi pada 2024, dan angka riil bisa lebih tinggi karena banyak korban enggan melapor.

Dalam praktik yang kerap disebut pig butchering, korban diyakinkan dengan rasa percaya dan ilusi keberhasilan finansial di platform palsu sebelum akhirnya dikuras. Pelaku biasanya tidak langsung meminta uang, melainkan menampilkan tangkapan layar profit, menjadi mentor investasi, atau narasi sukses bersama sering kali berujung pada kripto atau platform abal-abal.

Solusi paling efektif tetap disiplin pada prinsip sederhana, yaitu begitu obrolan yang baru berjalan mengarah ke uang, investasi, atau kesempatan cuan, anggap itu sinyal bahaya. Putus komunikasi, blokir, dan laporkan akun. Jangan terperangkap pembuktian palsu seperti screenshot profit atau bahkan video call yang ternyata deepfake.