AI Ubah Cara Turis Booking Hotel

Laporan NYU SPS dan BCG menunjukkan AI mulai mengubah cara wisatawan menemukan dan memesan hotel, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional industri perhotelan.

Wisatawan kini semakin sering menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan. Kebiasaan ini mengubah proses pemesanan hotel dari metode mencari dan menggulir layar menjadi pola baru, yaitu bertanya dan langsung memesan. Dalam model ini, sistem AI dapat langsung memberikan rekomendasi hotel sekaligus membantu proses pemesanan.

Pada saat yang sama, industri perhotelan menghadapi tekanan operasional yang meningkat. Banyak hotel mengalami kekurangan staf serta kenaikan biaya tenaga kerja lebih dari 11 persen pada tahun 2025. Kondisi tersebut mendorong pengelola hotel mencari cara baru agar tetap dapat menjaga kualitas layanan bagi para tamu.

Laporan berjudul AI-First Hotels yang disusun oleh NYU School of Professional Studies (NYU SPS) dan Boston Consulting Group (BCG) menjelaskan bahwa hotel kini harus bersaing agar dapat masuk ke dalam daftar rekomendasi sistem AI. Untuk itu, perusahaan perhotelan membutuhkan jejak digital yang kuat serta sistem data yang lebih terintegrasi.

“Hotel-hotel berada di bawah tekanan untuk melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit sambil tetap memberikan pengalaman yang unik,” kata Nicolas Graf, a Chaired Professor and Associate Dean at NYU SPS and coauthor. “AI dapat membantu menghilangkan hambatan dalam pekerjaan administratif dan tugas rutin, sehingga tim dapat fokus pada momen-momen berharga bagi tamu asalkan fondasi data yang tepat dan model operasional yang sesuai telah diterapkan.”

Agar tetap mudah ditemukan oleh sistem perencana perjalanan berbasis AI, laporan tersebut menyarankan tiga langkah utama bagi pengelola hotel:

  1. Membuat konten digital yang tepercaya dan mudah dibaca oleh mesin di berbagai platform perjalanan.
  2. Menyiapkan distribusi informasi yang sesuai dengan ekosistem rekomendasi berbasis AI.
  3. Menerapkan pengelolaan pendapatan yang dinamis untuk menyesuaikan harga dan kanal penjualan saat permintaan berubah.

Selain meningkatkan pengalaman tamu, AI juga mulai memberikan dampak terhadap efisiensi operasional hotel. Beberapa hotel melaporkan bahwa penggunaan sistem penjadwalan tata graha berbasis AI mampu mempercepat proses pembersihan dan penyiapan kamar hingga 20 persen. Teknologi pelacakan limbah makanan berbasis AI bahkan dapat mengurangi sisa makanan dapur hingga sekitar 50 persen dalam waktu delapan bulan.

Keberhasilan penerapan strategi ini sangat bergantung pada kualitas data yang dimiliki hotel. Banyak perusahaan perhotelan masih menghadapi kendala karena sistem informasi mereka belum terintegrasi dengan baik. Selain itu, jumlah tenaga kerja yang memiliki kemampuan AI di sektor pariwisata juga masih terbatas sehingga pelatihan staf menjadi langkah penting untuk mendukung transformasi ini.