Akhir tahun adalah masanya berbelanja. Liburan Natal dan Tahun Baru mendorong konsumen untuk mengeluarkan isi dompet digital mereka, membeli barang-barang sebagai kado bagi keluarga dan teman.
Kemudahan berbelanja di zaman digital membuat konsumen tidak perlu lagi jalan ke luar rumah untuk mendapatkan barang-barang yang dicari. Dengan memasukkan pesanan dari smartphone, belanjaan akan datang diantar langsung sampai rumah.
Namun, ketidaktelitian konsumen sayangnya dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital. Mereka memasang perangkap berupa toko online palsu yang dirancang untuk merayu calon korban.
Penjahat digital yang bergentayangan di internet mempelajari perilaku konsumen dengan saksama. Mereka menggali informasi mengenai barang-barang yang sedang diminati, lalu memasang berbagai pemanis seperti harga lebih murah atau menampilkan produk yang sulit ditemukan di pasaran.
Sebagai pemantik pembelian, promo palsu pun dilancarkan. Harga diskon dalam waktu terbatas serta klaim stok yang sedikit sering kali cukup untuk memancing korban agar segera bertransaksi.
Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, mengemukakan bahwa generative AI kini menjadi alat yang digunakan kriminal siber untuk melancarkan serangan. AI dapat mempercepat pembuatan toko online palsu sekaligus menghasilkan pesan pancingan yang disesuaikan dengan karakter target.
“Generative AI mempermudah aksi penipuan oleh para penjahat siber. Mereka kini dapat menghasilkan gambar dan video yang tampak sangat nyata untuk mengisi toko-toko palsu,” lanjut Defi saat diwawancarai oleh Netpublik.
Untuk melindungi diri dari ancaman berbasis AI generatif, langkah utama selalu dimulai dari kesadaran. Sebelum berbelanja online, konsumen perlu memeriksa kembali apakah toko tersebut benar-benar dapat dipercaya.









