Studi global terbaru dari IBM Institute for Business Value mengungkap bahwa ketergantungan ekstrem pada satu ekosistem AI (artificial intelligence) kini menjadi risiko ekonomi bagi organisasi. Ketika AI diintegrasikan semakin dalam ke operasional inti, banyak perusahaan justru terjebak dalam sistem yang kaku dan sulit diubah.
Riset berjudul “The Calculus of AI Sovereignty” yang melibatkan 1.000 eksekutif senior membuka kenyataan yang mengkhawatirkan. Sebanyak 71% responden mengaku sulit untuk beralih dari vendor atau model AI utama mereka. Lebih lanjut, 68% eksekutif menghadapi kendala besar dalam memenuhi regulasi lokalisasi data (data residency) lintas wilayah geopolitik.
Kondisi ini menjadi semakin runyam karena minimnya transparansi internal. Sebanyak 91% organisasi tidak sepenuhnya memahami ketergantungan sistem mereka pada vendor, model, hingga infrastruktur AI. Sebagai akibatnya, mereka sangat rentan terhadap disrupsi.
Terbukti, para pemimpin bisnis melaporkan rata-rata enam kali gangguan terkait AI dalam dua tahun terakhir. Bahkan, 81% responden menyatakan bahwa pemadaman vendor selama tujuh hari saja dapat melumpuhkan operasi bisnis mereka secara kritis.
Ana Paula Assis, Senior Vice President IBM EMEA & APAC, menekankan bahwa taruhannya bukan lagi sekadar teknis, melainkan ekonomi. Kehilangan kendali atas infrastruktur AI berdampak langsung pada tekanan margin, risiko kepatuhan hukum, hingga ancaman kelangsungan bisnis.
Sebaliknya, studi menunjukkan bahwa kedaulatan AI memberikan keuntungan kompetitif yang masif. Organisasi yang membangun sistem adaptif mampu mengamankan 55% lebih banyak laba operasi dari disrupsi. Menyadari hal ini, 72% eksekutif bahkan bersedia membayar biaya 20% lebih mahal demi fleksibilitas strategi vendor. Sayangnya, baru 7% perusahaan yang telah mencapai tingkat kendali kedaulatan sekokoh ini.
Demi mengamankan bisnis jangka panjang, memiliki kendali penuh atas data, model, dan infrastruktur mandiri adalah kebutuhan strategis. Bisnis tidak bisa bergantung pada AI yang tiba-tiba dimatikan secara sepihak.






