Laporan terbaru dari Boston Consulting Group (BCG) yang berjudul CEOs Are Starting to See Value from AI. Now Comes Execution., mengungkap bahwa hampir 90% CEO yang disurvei mengakui bahwa Artificial Intelligence (AI) telah memberikan dampak finansial. Dampaknya baik berupa efisiensi biaya maupun kenaikan pendapatan di sektor tertentu.
Namun mereka menghadapi hambatan besar berikutnya, yaitu kebanyakan perusahaan kesulitan memperluas dampak finansial AI ke skala yang lebih besar.
Studi terhadap 152 CEO perusahaan berpendapatan minimal $500 juta ini menegaskan bahwa masalah utamanya bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan eksekusi.
“Disiplin yang mendorong keberhasilan transformasi tidak pernah berubah,” kata Nicolas De Bellefonds, Senior Partner BCG. “AI memperbesar taruhannya: potensinya luar biasa besar, tetapi hukuman untuk eksekusi yang lemah juga jauh lebih fatal. Itulah sebabnya jurang pemisah antara CEO yang memahami apa yang dibutuhkan dan mereka yang benar-benar menjalankannya menjadi sangat penting saat ini.”
Meskipun lebih dari separuh CEO menyebut penyelarasan AI dengan laporan laba rugi sebagai hambatan utama, kenyataannya baru 14% yang benar-benar menetapkan target dampak keuangan secara jelas untuk setiap inisiatif AI mereka.
Tantangan berikutnya datang dari sisi sumber daya manusia. Sebanyak 55% CEO menganggap merancang ulang peran pekerja sebagai tantangan besar, namun ironisnya hanya 30% yang melibatkan divisi HR dalam tata kelola AI. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan keterlibatan tim teknologi yang mencapai 82%.
Tren proyek uji coba juga masih mendominasi. Sebanyak 64% perusahaan rajin menjalankan proyek pilot AI, tetapi hanya 26% yang berhasil mengintegrasikannya ke dalam transformasi bisnis secara menyeluruh.









