Laporan Deloitte menyoroti pentingnya pendekatan power-first dalam pembangunan pusat data di Asia Pasifik agar pertumbuhan ekonomi digital tidak membebani jaringan listrik dan tetap mendukung transisi energi bersih.
Pusat data kini menjadi fasilitator ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik. Infrastruktur ini mendukung layanan komputasi awan, perdagangan elektronik, komunikasi digital, hingga pengembangan AI. Namun, kebutuhan listrik yang sangat besar dari fasilitas tersebut mulai memberikan tekanan pada sistem energi regional yang sedang mengalami transisi.
Laporan Deloitte berjudul Powering Asia Pacific’s Data Centre Boom menjelaskan bahwa pertumbuhan pusat data yang tidak terkoordinasi berisiko memperparah kemacetan jaringan listrik serta meningkatkan volatilitas harga energi. Tanpa perencanaan yang matang, ekspansi fasilitas digital dapat memperlambat pembangunan energi bersih di kawasan tersebut.
Untuk mengatasi masalah ini, Deloitte mendorong penerapan pendekatan power-first, yaitu menjadikan akses terhadap energi bersih sebagai faktor utama dalam perencanaan proyek pusat data. Pendekatan ini menempatkan infrastruktur energi sebagai bagian inti dari desain fasilitas sejak tahap awal pembangunan.
Lima Langkah Energi Bersih untuk Pusat Data
Menurut Deloitte, sejumlah operator pusat data di Asia Pasifik telah mulai menerapkan berbagai praktik energi bersih guna memastikan pertumbuhan infrastruktur digital tetap selaras dengan target keberlanjutan.
- Merancang proyek pusat data berdasarkan ketersediaan energi bersih yang stabil sejak tahap awal perencanaan.
- Menggunakan berbagai sumber energi hijau melalui kontrak jangka panjang seperti Power Purchase Agreement (PPA), tarif listrik hijau dari utilitas, serta sistem penyimpanan energi seperti baterai.
- Mengembangkan pusat data di lokasi yang dekat dengan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin untuk mengurangi tekanan pada jaringan transmisi listrik.
- Menggeser beban komputasi ke waktu ketika produksi energi terbarukan sedang melimpah sehingga penggunaan listrik menjadi lebih efisien.
- Mengintegrasikan sistem baterai skala besar untuk membantu menjaga stabilitas frekuensi dan keandalan jaringan listrik publik.
“Kawasan Asia Pasifik sedang berada di titik kritis,” kata Will Symons, Will Symons, Deloitte Asia Pacific Sustainability Leader. “Teknologi AI, komputasi awan, dan konektivitas digital sedang berkembang pesat, yang mendorong investasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data yang boros energi. Di seluruh kawasan ini, jaringan listrik sudah berada di bawah tekanan untuk mengurangi emisi karbon sekaligus menjaga keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan. Mengadopsi pendekatan yang mengutamakan pasokan listrik dari energi bersih sangat penting untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data baru, mempercepat pengurangan emisi karbon, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”







