Ini Beda Perusahaan Yang Gagal Dan Berhasil Implementasikan AI

Riset Gartner menunjukkan hanya 39% perusahaan yakin AI berdampak finansial. 

Walau perusahaan sudah menggunaka AI, namun hasil yang diperoleh belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Survei global Gartner terhadap 353 pemimpin data, analitik, dan AI pada akhir 2025 menunjukkan hanya 39% yang yakin investasi AI akan memberikan dampak positif pada kinerja keuangan.

Temuan ini mengindikasikan adanya celah pada aspek yang lebih mendasar. Organisasi yang berhasil menjalankan inisiatif AI tercatat mengalokasikan investasi hingga empat kali lebih besar, sebagai persentase dari pendapatan, pada fondasi utama seperti kualitas data, tata kelola, kesiapan sumber daya manusia, serta manajemen perubahan.

Sebaliknya, perusahaan yang mengabaikan fondasi tersebut cenderung mengalami hasil yang tidak optimal. AI tidak cukup hanya diimplementasikan sebagai teknologi tambahan, melainkan perlu ditopang oleh sistem data yang kuat dan terstruktur sejak awal.

Gartner menekankan peran strategis pemimpin data dan analitik dalam membangun fondasi AI yang dapat dipercaya hingga 2030. Fokusnya bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada konteks data dan relevansi terhadap kebutuhan bisnis.

Perubahan pertama yang perlu dilakukan perusahaan adalah mengadopsi pendekatan AI-first, di mana AI menjadi bagian inti dari strategi bisnis, bukan sekadar pelengkap. Kedua, struktur tim akan bergeser menjadi lebih ramping namun memiliki cakupan keahlian yang luas. Rita Sallam menyebut bahwa AI akan meningkatkan kapasitas manusia, sehingga tim kecil dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Perubahan berikutnya menempatkan konteks sebagai fondasi utama. Organisasi dengan kesiapan AI tinggi mampu menghasilkan kinerja bisnis hingga 65% lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan AI lebih ditentukan oleh kualitas data dan konteks yang dimiliki, bukan hanya kecanggihan model.

Selain itu, perusahaan perlu mengintegrasikan rekayasa data, AI, perangkat lunak, dan konteks dalam satu pendekatan terpadu. Tata kelola berbasis kepercayaan juga menjadi elemen penting, mengingat hanya 23% pemimpin IT yang merasa siap mengelola risiko pada AI generatif.

Terakhir, keberhasilan AI tidak lagi diukur semata dari ROI. Pemimpin yang progresif mulai membangun siklus nilai berkelanjutan, di mana hasil dari inisiatif AI digunakan kembali untuk mendorong inovasi berikutnya. Pendekatan ini memungkinkan AI berkembang sebagai penggerak bisnis yang nyata, bukan sekadar eksperimen.