Persepsi dunia usaha terhadap keamanan teknologi informasi kini mengalami pergeseran. Investasi pada cybersecurity tidak lagi sekadar dianggap sebagai benteng pertahanan dari serangan siber, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang yang mendorong transformasi digital, ketahanan bisnis, dan pertumbuhan berkelanjutan.
Hal tersebut terungkap dari studi terbaru Kaspersky yang melibatkan 1.800 pembuat keputusan TI dan spesialis keamanan siber dari 18 negara di berbagai industri. Di tengah pesatnya adopsi cloud, AI, dan otomasi bisnis, keamanan siber berperan penting dalam inovasi.
Studi ini mencatat beberapa nilai bisnis utama yang dirasakan organisasi dari penguatan keamanan siber:
Perlindungan Data (35%): Dianggap sebagai nilai bisnis paling utama demi menjaga kontinuitas operasional dan kepatuhan terhadap regulasi privasi yang kian ketat.
Adopsi Teknologi Baru yang Aman (27%): Keamanan siber memungkinkan perusahaan mengadopsi AI dan layanan cloud secara aman tanpa memperluas celah serangan siber.
Ketahanan Finansial (24%): Memperkuat keamanan TI terbukti efektif mengurangi risiko finansial dan kerugian yang tak terduga.
Studi Kaspersky ini juga menemukan bahwa organisasi yang bebas dari insiden siber dalam setahun terakhir cenderung menyoroti efisiensi operasional. Sebaliknya, perusahaan yang pernah terkena serangan lebih berfokus pada adopsi teknologi yang aman dan mitigasi risiko kerugian.
“Seiring pesatnya perkembangan transformasi digital di berbagai organisasi, keamanan siber telah bertransformasi dari sekadar fungsi perlindungan menjadi pendorong strategis bagi inovasi dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pergeseran ini semakin tercermin dalam prioritas para pimpinan perusahaan, yang menyadari bahwa keamanan yang efektif tidak hanya harus memperkuat ketahanan, tetapi juga menyederhanakan operasional di tengah lingkungan TI yang kompleks saat ini,” kata Ilya Markelov, Head of Unified Platform Product Line di Kaspersky.








