Kaspersky Memantau AI Semakin Banyak Diandalkan Di Liburan Natal

Survei Kaspersky menunjukkan AI semakin sering dipakai saat liburan Natal 2025, bukan hanya untuk rencana dan belanja, tetapi juga sebagai teman ngobrol. Namun, pengguna perlu menjaga privasi dan waspada terhadap tautan berbahaya.

Pada masa menjelang libur Natal 2025, penggunaan AI terlihat semakin banyak dipakai di berbagai aktivitas. Survei Kaspersky mencatat 74% responden berencana memakai AI selama musim liburan, dan minat paling tinggi datang dari kelompok usia 18–34 tahun dengan angka 86%. 

Temuan ini menggambarkan bahwa AI tidak lagi dipakai sekadar untuk mencari informasi cepat, tetapi mulai menjadi pendamping yang membantu orang menyusun rencana, memilih kebutuhan, hingga mengisi waktu luang.

AI Sebagai Asisten Liburan

Survei tersebut menunjukkan fungsi AI paling sering dipakai untuk kebutuhan yang praktis. Sebanyak 56% pengguna berencana memakai AI untuk mencari resep, sementara 54% memakainya untuk menemukan restoran dan tempat menginap. 

AI juga banyak dipakai sebagai mesin ide. 50% responden mengandalkannya untuk brainstorming saat mencari hadiah, cara merayakan, atau tips dekorasi Natal. Angka 50% yang sama juga muncul untuk kebutuhan ide aktivitas mengisi waktu luang.

AI juga dipakai sebagai asisten belanja selama liburan, seperti untuk menyusun daftar belanja, mencari penawaran, atau membantu menilai ulasan. 

Untuk urusan anggaran, minat generasi muda terlihat lebih tinggi. Kelompok usia muda menunjukkan ketertarikan memakai AI sebagai perencana anggaran (50%), sedangkan responden usia 55+ lebih rendah (31%) dan cenderung memakai AI untuk mencari resep (59%) serta mencari ide hadiah (41%). 

Menariknya, AI juga dipakai sebagai teman bicara ketika suasana hati menurun. Survei Kaspersky mencatat 29% pengguna mempertimbangkan mengobrol dengan AI saat merasa tidak bahagia selama liburan. Ketertarikan terbesar ada pada Generasi Z dan milenial (35%), sedangkan kelompok usia 55+ jauh lebih rendah (19%). Pola ini menunjukkan sebagian orang merasa terbantu oleh respons cepat dan keberadaan lawan bicara, walaupun AI tentu tidak menggantikan dukungan manusia.

Vladislav Tushkanov, Group Manager di Kaspersky AI Technology Research Center, mengatakan, “Seiring dengan perkembangan pesat model LLM, potensi mereka untuk berinteraksi secara berarti dengan pengguna juga semakin meningkat. Namun, penting untuk diingat bahwa model ini belajar menjawab berdasarkan data, sebagian besar berasal dari Internet, artinya mereka rentan mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk mendekati saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan berusaha menghindari berbagi informasi secara berlebihan.”

Berikut tiga langkah untuk membantu meningkatkan privasi saat memakai chatbot AI:

  1. Baca kebijakan privasi alat AI sebelum memulai percakapan. Periksa juga apakah tersedia opsi untuk menolak (opt out) penggunaan chat untuk pelatihan model atau tujuan pemasaran, agar data yang dikumpulkan lebih sedikit.
  2. Hindari membagikan informasi yang sangat pribadi, data identitas, atau rincian keuangan. Perlakukan pesan seperti unggahan publik, dan jangan menganggap kerahasiaan bersifat mutlak.
  3. Gunakan layanan AI dari perusahaan yang bereputasi dan memiliki rekam jejak keamanan yang baik. Hindari bot anonim atau bot AI palsu yang dapat dirancang untuk mencuri data, melakukan penipuan, phishing, atau pemerasan.

Meski membantu, Kaspersky mengingatkan agar pengguna memeriksa setiap tautan yang diberikan AI sebelum diklik, karena tautan tersebut bisa saja mengarah ke konten berbahaya atau phishing.