HPE mengungkap hanya 5% perusahaan siap menghadapi perubahan virtualisasi. Model hybrid cloud dinilai menjadi fondasi baru kesiapan AI dan efisiensi operasional bisnis.
Riset terbaru dari Hewlett Packard Enterprise (HPE) menunjukkan hanya 5% perusahaan yang benar-benar siap menghadapi perubahan signifikan dalam sistem virtualisasi mereka. Mayoritas organisasi masih berada dalam fase evaluasi dan transisi.
Perubahan ini dipicu oleh kebutuhan kesiapan AI, lonjakan biaya lisensi, serta tuntutan performa yang semakin tinggi. Organisasi tidak lagi sekadar mempertahankan sistem lama, tetapi mulai memikirkan ulang arsitektur operasional agar tetap kompetitif di tengah tekanan pasar.
“Peran kami adalah membantu pelanggan dalam proses modernisasi agar dapat menjembatani kesenjangan antara ambisi kecerdasan buatan (AI) dan realitas operasional.” kata Brian Gruttadauria, CTO of Hybrid Cloud, HPE.
Keadaan saat ini, banyak perusahaan mengadopsi model hybrid cloud dengan menggabungkan private data center dan public cloud. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas dalam distribusi beban kerja tanpa kehilangan kontrol atas data dan regulasi.
Virtualisasi generasi baru berperan sebagai fondasi kesiapan AI. Infrastruktur yang tepat memungkinkan pengolahan data berskala besar dengan latensi rendah, sekaligus menyederhanakan pengelolaan sistem yang sebelumnya terfragmentasi.
Selain mendukung AI, platform modern juga mengintegrasikan fitur backup, disaster recovery, dan perlindungan siber secara terpadu. Integrasi ini membantu organisasi menjaga kesinambungan operasional serta mendeteksi potensi gangguan lebih dini.









