Check Point menghadirkan AI Factory Security Blueprint untuk melindungi infrastruktur AI dari ancaman seperti prompt injection, pencurian model, dan kebocoran data.
Perusahaan memilih untuk membangun infrastruktur AI sendiri untuk melindungi data sensitif dan hak kekayaan intelektual. Pilihan ini bukan berrarti lebih gampang, karena mereka menghadapi kompleksitas sistem seperti cluster GPU, pipeline pelatihan data, dan API inferensi. Yang lebih berbahaya dalah AI menciptakan permukaan serangan yang jauh lebih luas dibandingkan sistem IT tradisional.
Check Point Software Technologies memperkenalkan AI Factory Security Architecture Blueprint sebagai solusi untuk mengamankan pusat data AI secara menyeluruh. Arsitektur ini dirancang untuk melindungi seluruh lapisan sistem, mulai dari hardware hingga aplikasi, sehingga investasi AI tetap aman dari ancaman siber yang semakin canggih.
Solusi ini bekerja melalui pendekatan keamanan berlapis yang mencakup aplikasi, infrastruktur, jaringan, dan workload. Pada lapisan aplikasi, sistem mencegah serangan seperti prompt injection dan kebocoran data. Di sisi infrastruktur, teknologi ini terintegrasi dengan server berbasis GPU dari NVIDIA untuk melakukan inspeksi trafik secara inline tanpa mengganggu performa komputasi.
Pada lapisan perimeter jaringan, pendekatan zero trust diterapkan untuk memastikan hanya pengguna yang terverifikasi yang dapat mengakses sistem. Sementara pada lapisan workload, aplikasi dikemas dalam kontainer terisolasi untuk mencegah penyebaran serangan antar lingkungan kerja.
Check Point juga memperkenalkan AI Factory Firewall yang mampu mendeteksi manipulasi model dan kebocoran data secara real-time, termasuk pada sistem yang berjalan di lingkungan tertutup. Nataly Kremer menyatakan bahwa infrastruktur AI kini menjadi aset paling bernilai sekaligus paling rentan bagi perusahaan.









