Laporan terbaru EY mengenai investasi teknologi di Indonesia mencatat bahwa generative AI menjadi prioritas investasi utama dalam 12 bulan ke depan bagi 57% responden. Namun, laju adopsi ini masih tertahan oleh tantangan eksekusi, terutama kekurangan keterampilan sebesar 52%, isu regulasi atau keamanan sebesar 48%, serta lemahnya keselarasan dengan teknologi lain sebesar 48%.
Eric Listyosuputro, EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, mengatakan,“Perusahaan-perusahaan di Indonesia bergerak cepat dari tahap intensi ke tahap implementasi dalam hal GenAI, namun realisasi nilainya akan bergantung pada upaya menutup kesenjangan kemampuan serta memperkuat keamanan guna mendukung penerapan yang bertanggung jawab secara luas.”
EY juga mencatat 89% responden menempatkan lingkungan kebijakan teknologi, termasuk dorongan baru terkait kedaulatan digital, sebagai faktor utama dalam investasi teknologi. Di saat yang sama, 81% responden menyebut perang dagang dan sengketa tarif ikut memengaruhi keputusan mereka.
Permintaan terhadap kedaulatan cloud ikut meningkat seiring gejolak geopolitik dan naiknya perhatian pada perlindungan data serta kemandirian teknologi. 79% responden menyebut keamanan siber dan kontrol data sebagai alasan utama meningkatnya minat terhadap sovereign cloud. Organisasi mulai memasukkan kebutuhan kedaulatan data ke dalam strategi cloud mereka, termasuk lewat pendekatan hybrid atau multi-cloud yang menggabungkan kapabilitas global dengan tata kelola lokal.
Dalam pemilihan vendor, aspek keamanan kini menempati posisi teratas, sedangkan kapabilitas AI yang tertanam dalam layanan vendor berada di urutan kedua. Sektor jasa keuangan, otomotif, dan manufaktur bahkan menempatkan kapabilitas AI tersebut sebagai faktor paling penting saat memilih mitra teknologi. Sementara itu, 33% responden global melihat operator telekomunikasi bukan hanya sebagai penyedia konektivitas, melainkan juga sebagai penjaga infrastruktur digital, dengan angka tertinggi di sektor kesehatan sebesar 39%.
EY menilai perusahaan kini membutuhkan vendor yang bukan sekadar menjual teknologi, tetapi juga memahami prioritas bisnis mereka. Sebanyak 59% responden mengatakan vendor belum cukup menunjukkan bagaimana mereka memakai teknologi secara internal untuk transformasi bisnis, dan 59% lainnya menilai vendor masih kurang memberi studi kasus yang relevan. Karena itu, 43% perusahaan berencana mengurangi jumlah vendor dalam 12 bulan ke depan agar operasional lebih sederhana dan kemitraan menjadi lebih strategis.




