Laporan EY 2026 menunjukkan adopsi AI meningkat pesat, tapi tingkat kepercayaan publik masih rendah.
Laporan terbaru dari EY pada 2026 menunjukkan bahwa perdebatan publik tentang AI masih didominasi oleh isu risiko. Walau terhadang isu kepercayaan public, data menunjukkan delapan dari sepuluh individu telah menggunakan teknologi ini dalam enam bulan terakhir untuk mendukung pengambilan keputusan sehari-hari.
Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara tingkat adopsi dan rasa percaya. Joe Depa, Global Chief Innovation Officer EY, menyatakan bahwa kepercayaan akan menjadi penentu utama dalam ekonomi AI jangka panjang, sementara saat ini adopsi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan tingkat kepercayaan pengguna.
Untuk menutup kesenjangan tersebut, perusahaan perlu membangun kepercayaan melalui pengalaman pengguna yang konsisten dan penyediaan data yang andal. Pendekatan ini mencakup penerapan batasan yang jelas, transparansi sistem, serta akuntabilitas dalam penggunaan teknologi.
Penggunaan AI saat ini banyak dimulai dari tugas-tugas ringan yang terintegrasi dalam rutinitas harian. Beberapa contoh penggunaan tersebut meliputi:
- Menentukan rute perjalanan melalui peta digital
- Menggunakan layanan pelanggan berbasis AI
- Merencanakan perjalanan atau liburan
- Menerima rekomendasi konten yang dipersonalisasi
Kemudahan dalam tugas sederhana ini membuka jalan bagi penggunaan yang lebih kompleks dan otonom, antara lain:
- Menggunakan kendaraan otonom
- Memanfaatkan agen AI untuk melakukan pembelian
- Mengelola keranjang belanja secara otomatis
- Mengatur transaksi keuangan dan aktivitas perbankan










