Riset Akamai: Dominasi Serangan AI Bot dan Agen Palsu Di 2026

Menurut laporan keamanan terbaru dari Akamai bertajuk State of the Internet (SOTI): Securing the Agentic Storefront: Attacks on Commerce, sektor commerce sebagai industri paling diincar oleh penjahat siber di dunia.

Per Desember 2025, hampir separuh (47.9%) dari seluruh trafik commerce di jaringan global Akamai didominasi oleh AI bots. Di saat yang sama, industri ini terus dibombardir oleh serangan application-layer (Layer 7) DDoS, eksploitasi aplikasi web, serta penyempitan celah antara serangan aplikasi tradisional dan eksploitasi berbasis API.

“Kami sedang mengamankan garda digital di mana ‘pelanggan’ kian didominasi oleh agen AI yang bekerja atas nama pengguna manusia,” kata Patrick Sullivan, CTO Security Strategy di Akamai. “Para pemimpin keamanan siber harus segera mengadopsi ‘agentic readiness’ dengan membangun arsitektur situs yang ramah bagi AI sah, namun agresif memblokir bot jahat.”

Laporan Akamai menyoroti beberapa tren yang kini membayangi para pemimpin TI dan CISO B2B. Agen belanja AI otonom mampu meniru perilaku mikro manusia secara sempurna sehingga menyamarkan sinyal ancaman. Peretas memanfaatkan taktik agent hijacking untuk mengambil alih asisten AI, menyalahgunakan kredensial pembayaran tersimpan, hingga menggunakan LLM untuk memproduksi akun synthetic identity (“Frankenstein”) yang meloloskan diri dari pertahanan statis.

Didorong oleh pengembangan LLM, AI training crawlers menyumbang lebih dari 70% pemicu AI bot di sektor ini, dengan OpenAI, ByteDance, dan Anthropic di posisi puncak. Meskipun 90% organisasi memantau aktivitas ini, fakta bahwa tiga perempat dari sisa trafik AI dibiarkan lewat tanpa batasan membuka celah risiko yang sangat besar.

Kerentanan API juga kian mengkhawatirkan dengan lonjakan serangan sebesar 9% secara tahunan (YoY). Studi Akamai menunjukkan bahwa 85% responden commerce mengalami minimal satu insiden API dalam setahun terakhir, namun ironisnya hanya 22% yang benar-benar memahami API mana saja yang mengekspos data sensitif mereka.

Ancaman ini makin diperparah oleh eskalasi serangan Layer 7 DDoS yang menargetkan sektor commerce hingga hampir 3 triliun kali sepanjang 2025, di mana sektor ritel menanggung 84% dari total volume tersebut. Penjahat siber memanfaatkan HTTP botnets untuk membanjiri API saat puncak musim belanja, merusak performa server, dan menghentikan transaksi.

Terakhir, terjadi industrialisasi pada pipeline phishing dan malware. Dalam rentang November 2025 hingga April 2026, malware mendominasi 56.5% aktivitas ancaman endpoint, disusul phishing sebesar 37.6%. Volume phishing harian bahkan melonjak drastis dari 56.600 pada Februari menjadi 134.600 pada April, yang menjadi bahan bakar utama aksi Account Takeover (ATO) serta pencurian poin loyalty.

Pola serangan ini juga menunjukkan karakteristik yang berbeda di tiap kawasan global:

Amerika Utara & EMEA: Wilayah pasar matang ini mencatatkan kenaikan bot yang cenderung moderat (7% di Amerika Utara dan 16% di EMEA). Namun, Amerika Utara memimpin secara kuantitas trafik AI bot yang mencapai 33 miliar pemicu.

APAC & LATAM: Lonjakan aktivitas bot melesat tajam di APAC (63%) dan LATAM (48%). Pasar travel dan program loyalty yang terfragmentasi di kawasan APAC menjadikannya target utama serangan bot dan Layer 7 DDoS.