Sedikit Pemimpin Pemasaran Yang Siapkan Keterampilan AI

Survei Gartner mengungkap kesenjangan literasi AI di kalangan CMO. Mayoritas melihat perubahan besar peran, namun hanya sebagian kecil yang menyiapkan keterampilan diri untuk memimpin era AI.

Survei terbaru oleh Gartner, Inc. menunjukkan bahwa 65% Chief Marketing Officer (CMO) percaya kemajuan AI akan secara dramatis mengubah peran mereka dalam dua tahun ke depan. Namun hanya 32% yang mengatakan perlu melakukan perubahan besar pada profil dan keterampilan mereka sendiri. 

Gartner menyebut kesenjangan ini sebagai AI blind spot, situasi di mana pemimpin pemasaran mengakui dampak AI tetapi kurang melakukan reskilling atau pembelajaran untuk memimpin era AI secara efektif. Banyak CMO masih memandang AI sebagai alat produktivitas, bukan sebagai kapabilitas strategis utama

Gartner bahkan memprediksi bahwa pada tahun 2027, rendahnya literasi AI akan menjadi salah satu tiga alasan utama mengapa CMO diganti di perusahaan besar. Di ke depannya, perusahaan berekspektasi pimipinan memiliki keterampilan AI. 

Survei menunjukkan sebagian besar CMO pertama kali berinteraksi dengan AI melalui fungsi seperti analitik data, otomatisasi alur kerja, atau generasi konten. Perspektif ini memunculkan kecenderungan melihat AI sekedar sebagai alat operasional, yang kemudian mendorong delegasi kepemilikan AI ke tim teknis, IT, atau agensi. 

Dalam konteks ini, AI bukan sekadar efisiensi tapi harus diintegrasikan sebagai pendorong pertumbuhan strategis, yang perlu dikawal langsung oleh CMO agar selaras dengan tujuan bisnis dan tata kelola merek. 

Para CMO juga didorong untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mengawasi tata kelola agensi, membangun komunitas praktik C-suite seputar AI, dan memastikan eksperimen teknologi tetap terhubung dengan kebutuhan perusahaan yang lebih luas.