Sektor Pemerintahan Dan Industri Melawan Penjahat Siber Yang Makin Terorganisir

Serangan siber kini dikelola seperti bisnis terorganisir. HPE mengungkap pola ancaman global dan strategi proteksi yang wajib diterapkan organisasi.

Penjahat siber kini menjalankan operasi mereka secara terstruktur layaknya perusahaan besar dengan memanfaatkan otomatisasi untuk menyerang sektor publik dan industri. Target utama mereka adalah data bernilai tinggi yang dapat dimonetisasi secara langsung.

Analisis terhadap 1.186 kampanye ancaman sepanjang 2025 menunjukkan bahwa serangan berlangsung dalam kecepatan tinggi dengan infrastruktur yang dapat digunakan ulang. Tren ini membuat pelaku mampu menembus sistem lebih cepat dibandingkan respons tim keamanan.

Sektor pemerintah menjadi target terbesar dengan porsi 23%, diikuti sektor keuangan sebesar 18% dan teknologi sebesar 15%. Pola ini menunjukkan bahwa organisasi dengan data sensitif dan penting menjadi sasaran utama.

Hewlett Packard Enterprise menghadirkan pendekatan berbasis riset ancaman nyata melalui HPE Threat Labs. Data serangan di dunia nyata diolah menjadi threat intelligence yang langsung diintegrasikan ke dalam solusi keamanan mereka.

Pendekatan ini bertujuan memperkuat sistem melalui deteksi yang lebih akurat dan respons insiden yang lebih cepat. Organisasi dapat mengidentifikasi potensi ancaman lebih dini sebelum berdampak pada kebocoran data atau gangguan operasional.

Untuk menghadapi kondisi ini, terdapat lima langkah proteksi utama yang direkomendasikan:

  1. Menghilangkan silo antar tim dengan berbagi intelijen ancaman secara real-time 
  2. Mengamankan titik masuk utama seperti VPN dan edge device 
  3. Menerapkan verifikasi identitas berbasis prinsip zero trust 
  4. Menggunakan deteksi dan respons otomatis untuk mempercepat mitigasi 
  5. Memperluas perlindungan hingga endpoint eksternal termasuk perangkat karyawan

Mounir Hahad, Head of HPE Threat Labs, HPE, mengatakan, “Laporan keamanan ini mencerminkan realitas yang dihadapi organisasi setiap hari. Penelitian kami didasarkan pada aktivitas ancaman di dunia nyata, bukan uji coba teoretis dalam skenario laboratorium yang terkendali. Penelitian ini mengungkap bagaimana pelaku serangan bertindak dalam kampanye aktif, bagaimana mereka beradaptasi, dan di mana mereka berhasil.”