Riset Salesforce mengungkap 96% pemimpin TI menilai integrasi data menjadi kunci keberhasilan AI agent.
Riset terbaru Salesforce menunjukkan 83% organisasi mengaku sudah mengimplementasikan AI agent. Organisasi rata-rata telah menggunakan 12 AI agent di berbagai fungsi bisnis.
Namun, hampir separuh menyatakan bahwa sistem mereka belum terintegrasi secara menyeluruh, sehingga data antar tim masih terfragmentasi.
Kondisi ini memicu risiko shadow AI, yaitu penggunaan AI secara diam-diam yang melanggar tata kelola yang ditetapkan perusahaan. Tanpa pengawasan, potensi kebocoran data dan pelanggaran kepatuhan meningkat secara signifikan.
Sebanyak 42% perusahaan menyebut risiko manajemen dan kepatuhan sebagai hambatan utama. Sementara itu, 41% organisasi mengaku kekurangan talenta yang mampu merancang dan mengelola agen AI secara tepat.
Untuk mengatasi fragmentasi tersebut, para pemimpin TI mulai mengadopsi arsitektur berbasis API sebagai fondasi integrasi. Pendekatan ini memungkinkan konektivitas data yang konsisten, aman, dan terstandarisasi di seluruh sistem perusahaan.
Dalam laporan yang dirilis Salesforce, terdapat beberapa manfaat utama penerapan arsitektur terpadu:
- Meningkatkan pengalaman karyawan, dengan 96% pemimpin TI menyatakan AI agent mampu meningkatkan kenyamanan dan efisiensi kerja.
- Membebaskan tim pengembang, di mana 95% responden percaya AI agent memberi ruang bagi tim teknis untuk fokus pada inovasi strategis.
- Menyatukan data lintas aplikasi agar AI agent memiliki konteks yang utuh dalam pengambilan keputusan.
- Memperkuat tata kelola dan keamanan melalui pengawasan terpusat terhadap seluruh aktivitas AI agent.
Sebanyak 40% perusahaan juga mengidentifikasi bahwa arsitektur yang telah ada menjadi penghambat utama integrasi. Sistem yang terkotak-kotak membuat AI agent tidak memiliki akses data yang menyeluruh.
Yang bisa diambil dari riset ini adalah bahwa 96% pemimpin TI sepakat keberhasilan AI agent sangat bergantung pada integrasi data yang lancar di seluruh sistem. Bahkan, 94% menyatakan masa depan organisasi ditentukan oleh kemampuan membangun konektivitas antara aplikasi, data, dan kecerdasan buatan.








