Asia Pasifik Catat Frekuensi Tertinggi Insiden Keamanan Siber Akibat Faktor Manusia

Risiko keamanan siber karena manusia di Asia Pasifik meningkat signifikan. Laporan Mimecast mengungkap frekuensi insiden lebih tinggi dibanding global dan mendorong adopsi AI untuk mitigasi.

Organisasi di Asia Pasifik sedang menghadapi peningkatan risiko keamanan siber yang bersumber dari faktor manusia. Ancaman ini tidak hanya lebih kompleks, tetapi juga terjadi lebih sering dibandingkan dengan wilayah lain seperti Amerika Utara dan Eropa.

Laporan State of Human Risk 2026 dari Mimecast menunjukkan bahwa perusahaan di Asia Pasifik mengalami rata-rata delapan insiden keamanan karena faktor manusia setiap bulannya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Eropa dengan enam insiden dan Amerika Utara dengan lima insiden per bulan.

Meskipun biaya rata-rata per insiden mencapai US$13,1 juta, tantangan utama di Asia Pasifik bukan pada besarnya kerugian per kasus, melainkan tingginya frekuensi kejadian. Hal ini memperbesar akumulasi dampak finansial bagi organisasi.

“Yang membedakan wilayah Asia Pasifik bukanlah biaya per insiden akibat orang dalam yang lebih mahal dibanding wilayah lain, melainkan frekuensi kejadiannya yang jauh lebih sering,” ungkap Nicky Choo, Vice President dan General Manager APAC di Mimecast. 

Faktor penyebab utama berasal dari penyalahgunaan kredensial, kelalaian karyawan, serta kesalahan operasional yang tidak disengaja. Model kerja hybrid dan remote juga memperluas permukaan serangan, sehingga data lebih rentan terekspos.

Untuk mencegahnya, organisasi mulai mengadopsi teknologi AI untuk menganalisis perilaku pengguna. Sekitar 53 persen perusahaan di Asia Pasifik telah menerapkan sistem ini untuk mendeteksi aktivitas yang menyimpang dari pola normal.

Teknologi ini bekerja melalui pendekatan behavioral analytics yang memantau interaksi pengguna terhadap sistem dan data secara berkelanjutan. Dengan cara ini, potensi ancaman dapat diidentifikasi lebih awal sebelum berkembang menjadi insiden besar.

“Ketika organisasi harus menghadapi insiden internal secara berulang, dampak kumulatif terhadap operasional, kepercayaan pelanggan, hingga risiko regulasi menjadi sangat signifikan. Hal ini mempertegas bahwa risiko siber yang didorong oleh faktor manusia bukanlah masalah abstrak, melainkan tantangan bisnis berkelanjutan bagi organisasi di seluruh kawasan ini,” tutup Nicky Choo.