Laporan IBM Institute for Business Value mengungkap bagaimana AI beralih dari alat efisiensi menjadi fondasi model bisnis, kepemimpinan, dan nilai baru di perusahaan.
Laporan terbaru dari IBM Institute for Business Value menunjukkan bahwa hampir seluruh pemimpin perusahaan memandang AI sebagai sumber utama pendapatan di masa depan. Namun, di balik optimisme tersebut, banyak eksekutif masih belum memiliki gambaran jelas tentang bagaimana nilai bisnis itu benar-benar akan dihasilkan.
Kekhawatiran terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada risiko kegagalan investasi. Banyak organisasi menyadari bahwa mengadopsi AI tanpa mengubah proses kerja akan berdampak kegagalan.
Karena itu, fokus perusahaan mulai bergeser. AI tidak lagi diposisikan semata sebagai alat efisiensi biaya, melainkan sebagai fondasi untuk menciptakan model bisnis dan sumber pertumbuhan baru.
Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk menginvestasikan kembali penghematan operasional ke inisiatif strategis yang lebih agresif, termasuk pengembangan produk, layanan, dan pengalaman pelanggan berbasis AI.
Pendekatan yang baru adalah menempatkan AI sebagai pendorong produktivitas yang mampu meningkatkan margin melalui penggunaan model yang lebih kecil, spesifik, dan dirancang untuk kebutuhan yang spesifik. Pendekatan ini memungkinkan hasil yang lebih presisi tanpa ketergantungan pada sistem berskala besar yang boros sumber daya.
Teknologi ini juga membantu organisasi mengatasi keterbatasan talenta ahli. Pekerjaan yang sebelumnya terhambat oleh kelangkaan tenaga berkeahlian tinggi kini dapat dilakukan lebih cepat dan konsisten dengan bantuan AI.
Mohamad Ali, Senior Vice President, IBM Consulting, mengatakan, “Pada tahun 2030, perusahaan yang berhasil akan mengintegrasikan AI ke dalam setiap keputusan dan operasional. Mereka akan memiliki aset AI yang kuat, bergerak lebih cepat daripada pesaing, memperkenalkan inovasi ke pasar dengan cepat, dan menghasilkan hasil bisnis yang nyata dan terukur menggunakan teknologi dan otomatisasi.”
Di tingkat kepemimpinan, AI mulai dimanfaatkan sebagai sistem pendukung keputusan strategis bagi manajemen dan dewan direksi. Teknologi ini memperkaya analisis, mempercepat skenario perencanaan. Selain itu ada kemungkinan lahirnya peran baru untuk karyawan yang berfokus pada orkestrasi AI.




