Survei EY 2026 menunjukkan mobilitas global meningkatkan retensi karyawan hingga 80 persen, didukung adopsi AI untuk mempercepat pengelolaan talenta lintas negara.
Perusahaan global kini menghadapi persaingan ketat dalam mendapatkan talenta dengan keterampilan spesifik. Perubahan kondisi pasar dan dinamika geopolitik membuat organisasi perlu mencari pendekatan baru untuk mempertahankan karyawan terbaik mereka. Dalam situasi ini, mobilitas lintas negara mulai menjadi strategi penting dalam manajemen talenta.
Survei EY Mobility Reimagined 2026 menunjukkan bahwa pengalaman bekerja di luar negeri berdampak langsung pada loyalitas karyawan. Sebanyak 80 persen responden menyatakan mereka lebih cenderung bertahan setelah menjalani penugasan internasional, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa mobilitas global berperan langsung dalam retensi karyawan.
Ekspektasi terhadap fleksibilitas juga terus meningkat. Sekitar 88 persen responden menilai fleksibilitas dalam kebijakan mobilitas sebagai faktor penting. Generasi Z bahkan memiliki kemungkinan hampir dua kali lebih besar dibanding generasi lain untuk menganggap fleksibilitas sebagai hal yang sangat penting, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan strategi mereka.
Peran Strategis Mobilitas dalam Manajemen Talenta
Mobilitas global tidak hanya berfungsi sebagai penugasan kerja lintas negara, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengembangan talenta. Program ini membantu membangun kepercayaan terhadap organisasi, mengembangkan pemimpin masa depan, serta memperkuat pipeline talenta jangka panjang.
Selain itu, mobilitas memungkinkan perusahaan menempatkan keterampilan di lokasi yang paling membutuhkan dan merespons peluang bisnis dengan lebih cepat. Namun, efektivitas ini sangat bergantung pada kualitas pengelolaan mobilitas itu sendiri.
Hanya sekitar 19 persen fungsi mobilitas yang masuk kategori high trust. Tim dalam kategori ini mampu memindahkan talenta lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan tim lainnya. Di sisi lain, lebih dari 50 persen perusahaan mengaku kehilangan peluang bisnis dalam dua tahun terakhir akibat kendala imigrasi dan regulasi lintas negara.
Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, perusahaan mulai mengandalkan teknologi berbasis AI. Sekitar 75 persen organisasi berencana meningkatkan investasi dalam teknologi mobilitas. Selain itu, 72 persen perusahaan mulai mengadopsi generative AI dan agentic AI untuk mengotomatisasi proses serta meningkatkan efisiensi operasional.
Namun, tantangan utama masih terletak pada kualitas data. Hanya 51 persen perusahaan yang menilai data mereka akurat, dan kurang dari separuh yang menganggap platform teknologi mereka andal. Tanpa fondasi data yang kuat, pemanfaatan AI dalam mobilitas global tidak dapat berjalan optimal.
Meski demikian, peluang transformasi tetap terbuka. Dengan kombinasi mobilitas global dan AI, perusahaan dapat beralih dari pendekatan reaktif menjadi lebih strategis. Hal ini memungkinkan organisasi merespons perubahan pasar lebih cepat sekaligus menciptakan pengalaman kerja lintas negara yang lebih baik bagi karyawan.










