Laju perilaku konsumen menggunakan AI (artificial intelligence) untuk berbelanja dan menemukan merek semakin berjarak jauh dengan cara pemasar menggunakan AI untuk mendukung aktivitasnya.
Laporan BCG bertajuk “How CMOs are Moving Agentic Marketing from Illusion to Reality”, mengungkap baru 8% CMO yang telah menerapkan AI agent otonom yang saling berkoordinasi, sementara 42% lainnya masih terjebak menggunakan teknologi ini sebatas asisten tugas individu.
Jika pemasar masih berkutat dengan penggunaan generative AI untuk aktivitas terpisah-pisah seperti menulis teks iklan, membuat desain grafik atau membuat personalisasi email, maka kampanye pemasaran tidak akan bisa mengejar perubahan pasar yang terus terjadi.
Kegagalan bertransisi menuju sistem operasi agentik terintegrasi berisiko membuat merek-merek mapan kehilangan relevansi dan kalah saing oleh para kompetitor baru yang sejak awal lahir dengan infrastruktur AI otonom.
“Investasi saat ini harus beralih dari sekadar alat AI individual menuju sistem operasi agentik terintegrasi yang dibangun di atas fondasi data yang kuat, brand intelligence, orkestrasi multi-agen dan talenta yang tepat,” menurut Mark Abraham, Managing Director & Senior Partner di BCG.
Penerapan agentic AI di pemasaran memang menggiurkan. Sistem otomatis yang bergerak sendiri menganalisa pasar kemudian sekaligus mengeksekusinya dengan memberikan pilihan terbaik bagi konsumen adalah tujuan.
Berbeda dengan konsumen yang bisa langsung menggunakan tool AI yang sudah ada untuk berbelanja, perusahaan harus hati-hati dalam mengaplikasikan teknologi yang hitungannya baru.
Perusahaan tidak bisa serta-merta menerapkan sistem agentic dalam skala besar. Mulai dengan memformulasikan tujuan apa yang pertama kali hendak dituju, dengan melihat problem besar yang sedang dialami.
Setelah prioritas ditentukan, mulai untuk menghitung keuntungan dan risiko jika sistem dijalankan. Dalam penerapannya, pengkajian juga harus terus dilakukan. Sambil berjalan, akan ditemukan kekurangan yang perlu untuk segera ditutup.
Jangan lupakan untuk menyertakan manusia di dalam sistem. Manusia adalah penentu keputusan jika sistem agentik melenceng dari tujuan.








