Laporan State of Threat Management dari Filigran mengungkap fakta mengejutkan mengenai lanskap keamanan siber global. Berdasarkan survei terhadap 550 praktisi dan pembuat keputusan siber di delapan negara, Singapura berada di posisi paling buncit dalam hal validasi ancaman terotomatisasi dan visibilitas risiko siber terkonsolidasi. Temuan ini menjadi paradoks besar mengingat reputasi Singapura sebagai pusat teknologi finansial dan infrastruktur kritis dunia.
“Seluruh responden asal Singapura dalam studi ini menghadapi setidaknya satu hambatan dalam meningkatkan pengelolaan paparan (exposure management) mereka, yang mengindikasikan adanya masalah pada alat (tooling) dan integrasi,” kata Kevin Vanhaelen, SVP Asia-Pasifik dan Jepang di Filigran.
Lebih lengkapnya, studi yang dilakukan oleh Vanson Bourne pada awal tahun 2026 ini menyoroti jurang pemisah yang lebar antara persepsi dan realitas operasional. Di kawasan Asia-Pasifik, terdapat kesenjangan sebesar 66,7 persen antara keyakinan bahwa otomasi itu penting dengan tingkat penerapannya di lapangan. Kesenjangan ini merupakan yang terluas dibandingkan wilayah lain, bahkan jauh melampaui Amerika Utara.
Di tingkat regional, setiap negara menghadapi kendalanya masing-masing. Singapura mencatatkan tingkat validasi terotomatisasi terendah sekaligus hambatan operasional tertinggi. Sementara itu, Jepang mencatatkan tingkat kematangan Continuous Threat Exposure Management terendah, dan Australia bergelut dengan kurangnya dukungan dari tingkat eksekutif.
Secara global, riset ini menggambarkan lanskap keamanan siber yang kaya akan data namun minim aksi nyata. Mayoritas organisasi membuang waktu hingga 42 persen hanya untuk memvalidasi risiko berdampak rendah.
Tanpa validasi berbasis otomasi, tim siber kewalahan menangani tumpukan celah keamanan terdeteksi yang belum tentu dapat dieksploitasi. Akibatnya, sebagian besar organisasi membutuhkan waktu lebih dari satu hari hanya untuk mendeteksi, merespon, dan memulihkan insiden siber.










