Bisnis otonom akan mengubah operasional, model pendapatan, hingga munculnya machine customers.
Sebanyak delapan puluh persen CEO yang disurvei oleh Gartner, memperkirakan AI akan mendorong perubahan besar pada kemampuan operasional perusahaan mereka. Pergeseran ini mengarah pada adopsi bisnis otonom, di mana sistem tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mengambil keputusan secara mandiri.
Saat ini, 54 persen perusahaan masih menggunakan otomatisasi terbatas pada tugas tertentu. Namun, angka tersebut diproyeksikan turun menjadi 13 persen pada 2028, seiring meningkatnya adopsi sistem yang lebih adaptif dan terintegrasi.
Konsep bisnis otonom mengandalkan AI agent yang mampu bertindak tanpa intervensi manusia secara terus-menerus. Sistem ini dirancang untuk mengambil keputusan, mengeksekusi proses, dan menciptakan nilai dalam satu alur kerja yang terhubung.
Sebanyak 32 persen organisasi berencana mengadopsi sistem AI adaptif untuk mendukung keputusan manusia. Sementara itu, 27 persen lainnya menargetkan operasional yang sepenuhnya berjalan secara mandiri.
AI agent juga mulai mengambil peran dalam proses transaksi, mulai dari pembelian hingga negosiasi harga. Sekitar 28 persen CEO menilai pendapatan berbasis biaya transaksi mulai tertekan akibat efisiensi yang dihasilkan sistem ini.
Dengna kondisi ini, perusahaan beralih ke model pendapatan berbasis hasil atau layanan berlangganan. Pendekatan ini lebih relevan karena nilai bisnis kini ditentukan oleh output, bukan proses.
Selain itu, perusahaan mulai mempersiapkan diri untuk melayani machine customers, yaitu sistem atau agen digital yang bertindak sebagai pembeli. Hal ini mendorong pembentukan unit bisnis baru yang dirancang untuk interaksi antar sistem secara langsung.
“Para CEO mulai menyadari bahwa AI bukan sekadar lapisan otomatisasi tambahan. AI adalah katalisator untuk membangun kembali perusahaan itu sendiri.” kata David Furlonger, Distinguished VP Analyst at Gartner.










