AI fisik diprediksi menjadi gelombang transformasi industri berikutnya.
Laporan terbaru dari Deloitte memperlihatkan percepatan adopsi AI fisik di sektor industri. Saat ini, baru sekitar 5% perusahaan yang merasakan dampak transformasi besar dari teknologi ini. Namun, sebanyak 41% pemimpin bisnis meyakini perubahan signifikan akan terjadi dalam tiga tahun ke depan.
Adopsi teknologi ini di operasional masih tergolong pada level awal. Baru sekitar 3% perusahaan yang benar-benar mengintegrasikan AI fisik dalam proses bisnis utama mereka. Deloitte memproyeksikan angka tersebut akan meningkat menjadi 18% dalam dua tahun mendatang.
Perkembangan ini mendorong perusahaan untuk mulai membangun fondasi teknologi dan organisasi. Langkah tersebut penting agar bisnis tetap memiliki daya saing dalam jangka panjang, terutama dalam menghadapi perubahan industri hingga satu dekade ke depan.
Penggunaan robot industri juga menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Sekitar 500.000 robot industri dipasang setiap tahun secara global, dan angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 700.000 unit per tahun pada 2028. Peningkatan ini mencerminkan kebutuhan akan otomatisasi yang semakin cerdas.
AI fisik membawa perubahan mendasar dalam cara mesin bekerja. Teknologi ini menggabungkan sistem fisik dengan kecerdasan buatan sehingga mesin tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga mampu memahami kondisi lingkungan dan mengambil keputusan secara mandiri.
“AI Fisik menandai momen ketika kecerdasan buatan keluar dari layar dan masuk ke dunia nyata, mengubah pabrik menjadi sistem pembelajaran yang mampu mendeteksi, mengambil keputusan, dan terus-menerus meningkatkan kinerjanya. Organisasi yang bertindak sekarang akan membentuk model operasional, keterampilan, dan standar yang akan menentukan kepemimpinan industri pada dekade mendatang,” kata Chris Lewin, Deloitte Asia Pacific AI Lead.
Untuk mulai mengadopsi teknologi ini, perusahaan perlu memperhatikan tiga aspek utama. Hal tersebut mencakup kematangan teknologi yang digunakan, kesiapan operasional, serta kesiapan tenaga kerja dalam berkolaborasi dengan sistem otomatis.








