Survei PwC mengungkap CEO Indonesia semakin aktif berekspansi ke sektor baru untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Diversifikasi bahkan mampu menyumbang hingga 22% pendapatan perusahaan.
Banyak pemimpin perusahaan di Indonesia mulai menyadari bahwa bergantung pada satu model bisnis saja tidak lagi cukup untuk menghadapi dinamika ekonomi global. Ketidakpastian pasar dan perubahan teknologi mendorong perusahaan untuk mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti mereka.
Survei CEO terbaru dari PwC menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia termasuk yang paling aktif melakukan diversifikasi. Sebanyak 56% CEO menyatakan bahwa mereka telah masuk ke industri baru dalam lima tahun terakhir, angka yang jauh melampaui rata-rata global sebesar 42% dan Asia Pasifik sebesar 29%.
Ekspansi ini umumnya mengarah ke sektor yang masih berdekatan dengan bisnis utama perusahaan. Beberapa bidang yang paling banyak dilirik antara lain teknologi, listrik dan utilitas, perhotelan dan rekreasi, transportasi dan logistik, serta teknik dan konstruksi.
Langkah tersebut mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan. Rata-rata perusahaan yang berekspansi ke industri baru mampu menghasilkan sekitar 20% pendapatan dari sektor tersebut, sementara di Indonesia kontribusinya bahkan mencapai 22%.
Tantangan Talenta dan Implementasi AI
Meskipun optimisme terhadap ekspansi cukup tinggi, para CEO tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek. Volatilitas ekonomi global dan meningkatnya ancaman keamanan siber menjadi faktor utama yang membuat perusahaan lebih selektif dalam mengalokasikan investasi.
Laporan PwC juga menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mulai memberikan manfaat, namun dampaknya masih bertahap. Di Indonesia, 22% CEO melaporkan bahwa AI telah meningkatkan pendapatan perusahaan, sementara 28% melihat penurunan biaya operasional.
Eddy Rintis, PwC Indonesia Territory Senior Partner, mengatakan, “Manfaat AI yang relatif terbatas yang terlihat di Indonesia mencerminkan kesenjangan yang jelas antara niat dan pelaksanaan. Banyak organisasi memiliki budaya yang mendukung dan memfasilitasi integrasi AI, masing-masing sebesar 63% dan 57%, tetapi jauh lebih sedikit yang memiliki fondasi praktis yang diperlukan untuk mengubah adopsi menjadi nilai finansial, mulai dari akses data yang komprehensif (24%) dan investasi yang memadai (32%) hingga proses AI yang Bertanggung Jawab yang terstruktur (36%) dan kemampuan untuk menarik talenta teknis AI berkualitas tinggi (37%). Menutup kesenjangan ini akan menjadi kunci bagi bisnis Indonesia untuk mengoptimalkan potensi penuh AI dan bersaing lebih efektif di tingkat regional dan global.”
Dalam laporan tersebut, dua tantangan utama yang masih dihadapi perusahaan Indonesia adalah:
- Kekurangan tenaga ahli dan keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi baru.
- Fokus manajemen yang masih tersita oleh persoalan operasional jangka pendek.









