Survei EY dan AARP terhadap 2.515 responden lansia usia 60–85 tahun di 16 negara ungkap fakta mengejutkan soal adopsi dan literasi AI di kalangan generasi baby boomer.
Survei terbaru yang dilakukan EY Ripples bersama Older Adults Technology Services (OATS) dari American Association of Retired Persons (AARP) menunjukkan bahwa generasi baby boomer jauh lebih terbuka terhadap AI dibandingkan yang selama ini diasumsikan. Laporan bertajuk “Understanding Older Generations’ Adoption of AI” ini melibatkan 2.515 responden berusia 60 hingga 85 tahun yang tersebar di 16 negara.
Hasil survei ini membalik berbagai asumsi tentang penggunaan teknologi oleh generasi Baby Boomer. Sebanyak 24 persen responden mengaku cukup atau sangat familiar dengan AI. 38 persen di antaranya secara aktif mempelajari AI melalui online, video edukasi, dan media sosial. Hanya 15 persen yang menyatakan sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari teknologi tersebut.
Ketika para lansia mencoba menggunakan AI, pengalaman mereka terbukti positif. Sebanyak 84 persen melaporkan pengalaman positif dalam konteks pekerjaan, 83 persen untuk keperluan belajar, dan 80 persen untuk aktivitas kreatif. Belajar menjadi kasus penggunaan teratas yang dipilih oleh 79 persen responden yang pernah mencoba AI.
Meski antusias, sejumlah hambatan tetap ada. Sebanyak 41 persen responden menyebutkan kekhawatiran terhadap privasi data sebagai penghalang utama dalam mengadopsi AI. Di sisi lain, 80 persen responden menyadari bahwa tidak semua konten yang dihasilkan AI telah diverifikasi kebenarannya, mencerminkan sikap skeptis yang sehat terhadap teknologi ini.
Dilihat dari sisi bisnis, kelompok demografis ini merupakan peluang pasar besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Penelitian ini mengungkap bahwa lansia yang masih bekerja menggunakan AI tiga kali lebih banyak dibandingkan mereka yang sudah pensiun, yang menunjukkan bahwa tempat kerja tetap menjadi jalur penting dalam mendorong adopsi AI bahkan bagi generasi yang lebih tua.
Untuk menutup kesenjangan ini, berbagai pihak diharapkan bergerak bersama. Sebanyak 44 persen responden menginginkan panduan atau sumber daya yang mudah digunakan, sementara 32 persen lebih memilih kursus pelatihan online dari penyedia AI. EY telah menjalankan program percontohan bersama platform teknologi Arist yang berfokus pada peningkatan kemampuan AI melalui berbagai alat, termasuk pesan instan.
Program percontohan ini dijadwalkan diluncurkan di Jerman dan Indonesia pada pertengahan 2026. Materi pelatihannya mencakup penggunaan alat AI dasar untuk meningkatkan komunikasi dengan orang-orang terkasih, menyederhanakan tugas sehari-hari seperti penganggaran dan pengelolaan kesehatan, serta mengeksplorasi aplikasi yang berkaitan dengan hobi dan minat para peserta.









