Lalu Lintas Data Lancar Atau Keamanan? Apa Prioritasnya?

hitachi vantara

Bank Indonesia melaporkan bahwa volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026, atau meningkat 28,69% dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Layanan real-time yang tidak hanya berupa transaksi digital, bisa jadi akan terus meningkat seiring dengan semakin nyamannya pengguna digital ditemani aplikasi di gawainya. Jika terjadi gangguan pada layanan seperti ini, konsumen bisa mengeluh, melemparkan kemarahan ke media sosial dan paling parahnya adalah beralih brand.

Infrastruktur data menjadi taruhannya untuk mengikuti membesarnya skala. Agar layanannya semakin disenangi pelanggan, sekaligus mendatangkan profit, maka perusahaan melirik teknologi baru, termasuk Artificial Intelligence, analitik data, dan pemrosesan data berskala besar.

Di saat yang sama, database, sistem pemrosesan transaksi, dan aplikasi inti tetap harus berjalan mulus untuk menopang operasional harian. Downtime menjadi kata yang mencemaskan karena dapat berdampak langsung pada kualitas layanan pelanggan dan kelangsungan bisnis.

Tantangan lainnya, skalabilitas data menjadi semakin kompleks karena risiko keamanan siber yang terus meningkat. Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), tercatat sekitar 5,16 miliar aktivitas lalu lintas internet yang terindikasi tidak wajar di Indonesia sepanjang 2025.

Solusi storage VSP One Block High End dari Hitachi Vantara mencoba untuk menjawab dua kebutuhan itu sekaligus, kelangsungan bisnis dan keamanan. Solusi ini dirancang untuk mendukung database kelas enterprise, sistem pemrosesan transaksi, analitik real-time, hingga kebutuhan AI.

VSP One Block High End juga dibekali dengan kemampuan immutable snapshots dan fitur pemulihan otomatis untuk memastikan salinan data tidak dapat dimanipulasi. Selain itu, platform ini dapat diintegrasikan dengan Ransomware Detection yang didukung oleh CyberSense, yaitu layanan berlangganan opsional berbasis AI yang mampu mendeteksi anomali, mengidentifikasi kerusakan akibat ransomware, serta menemukan titik pemulihan terdekat dari salinan data yang bersih.

“Modernisasi infrastruktur bukan sekadar menambah kapasitas. Perusahaan membutuhkan kinerja yang andal untuk mendukung berbagai kebutuhan komputasi, pengelolaan yang lebih sederhana di lingkungan open systems dan mainframe, serta kemampuan untuk memulihkan data secara cepat dan akurat ketika terjadi gangguan,” kata Sony Chahyadi, Enterprise Solutions Consultant Lead, Hitachi Vantara Indonesia.