Riset Cisco: Manusia Tak Lagi Mampu Tangani, AI Agent Datang

agentic AI - Cisco

Pengelolaan jaringan komputer kelas enterprise kini memasuki babak baru yang digerakkan oleh satu kebutuhan yaitu efisiensi di tengah kompleksitas infrastruktur yang kian ekstrem. Laporan riset terbaru dari Cisco yang bertajuk The Impact of Agentic AI on Network Operations menunjukkan pergeseran paradigma network operations (NetOps), di mana enterprise mulai bertransisi dari otomatisasi linier menuju model operasional berbasis agentic AI atau AgenticOps.

Studi independen yang dilakukan Omdia terhadap 1.000 pemimpin IT dan NetOps dari perusahaan berskala besar ini menunjukkan bahwa AI telah bertransformasi dari peran penasihat menjadi agen eksekutor yang mandiri. Dalam ekosistem AgenticOps, praktisi IT beralih fungsi sebagai penentu arah strategis dan penyusun batasan, sementara AI agent secara otonom mendeteksi, menalar, dan mengambil tindakan korektif di seluruh domain jaringan.

Akselerasi ini terbukti dari temuan bahwa 84% organisasi menargetkan adopsi model operasional berbasis AI dalam 12 bulan ke depan, dengan 80% responden bersedia memberikan wewenang tinggi hingga otonomi penuh tanpa pengawasan manusia langsung.

Pendorong utama perubahan ini adalah ketidakmampuan model NetOps tradisional dalam mengimbangi beban kerja modern. Rata-rata enterprise saat ini menghasilkan sekitar 4.100 alert pemantauan setiap hari. Volume sebesar ini tidak hanya mustahil ditangani secara manual tanpa ratusan spesialis IT Tambahan, tetapi juga menyebabkan hampir separuh insiden ditutup tanpa penyelidikan akibat maraknya false positive.

Lebih jauh, 95% organisasi mengakui bahwa perangkat AIOps non-agen yang mereka miliki saat ini sudah gagal merespons kerumitan jaringan lintas domain dan proses perubahan yang dinamis.

Kondisi tersebut makin tertekan oleh ledakan lalu lintas data berbasis AI itu sendiri. Analisis Cisco mencatat lalu lintas AI berpotensi berlipat ganda setiap enam bulan, sementara interaksi antar-agen AI dapat meningkatkan pemakaian lalu lintas jaringan hingga 450%. Sebagai dampaknya, 82% organisasi kini mengizinkan agen AI melakukan perubahan jaringan produksi secara mandiri, mulai dari mengalihkan lalu lintas data, menyesuaikan parameter nirkabel, merespons insiden secara end-to-end, hingga mengisolasi perangkat mencurigakan.