Laporan keamanan terbaru Cloudflare menunjukkan perubahan besar dalam taktik serangan siber global, dari eksploitasi teknis menuju pencurian identitas digital dan serangan otomatis berskala besar.
Pelaku kejahatanh siber kini tidak lagi fokus membobol sistem secara teknis. Laporan terbaru dari Cloudflare menunjukkan bahwa banyak peretas justru memilih masuk ke jaringan menggunakan kredensial atau identitas digital yang dicuri. Perubahan ini diperkuat oleh pemanfaatan AI yang memungkinkan pemetaan target secara otomatis dan lebih cepat dibanding metode serangan tradisional.
Skala ancaman juga terus meningkat. Cloudflare mencatat berbagai serangan siber besar sepanjang tahun, termasuk serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang mencapai rekor 31,4 Tbps. Serangan dengan volume sebesar ini berpotensi melumpuhkan infrastruktur internet dalam waktu singkat jika tidak ditangani oleh sistem pertahanan otomatis.
Empat Tren Utama Ancaman Siber
Laporan yang dikeluarkan Cloudflare menyoroti empat tren penting yang menunjukkan bagaimana lanskap ancaman digital terus berkembang.
- Penggunaan AI oleh Peretas
Model bahasa besar kini dimanfaatkan untuk membuat kode eksploitasi, melakukan otomatisasi serangan, serta menciptakan deepfake yang digunakan dalam serangan social engineering. - Operasi Siber Aktor Negara
Kelompok yang dikaitkan dengan Tiongkok seperti Salt Typhoon disebut semakin fokus pada infrastruktur telekomunikasi dan layanan TI untuk menanamkan akses jangka panjang. - Penyusupan Identitas di Dunia Kerja
Operatif dari Korea Utara dilaporkan mencoba masuk ke perusahaan Barat dengan identitas palsu, memanfaatkan teknologi AI untuk menyembunyikan lokasi asli mereka. - Eskalasi Skala Serangan DDoS
Serangan DDoS kini mencapai skala ekstrem, termasuk insiden yang memuncak hingga 31,4 Tbps yang tercatat sebagai salah satu serangan terbesar yang pernah dipublikasikan.
“Hacker berkembang pesat di celah-celah yang ditinggalkan oleh informasi ancaman yang terfragmentasi dan usang. Di Cloudflare, kami telah membangun jaringan sensor global terbesar dan paling komprehensif yang memberi kami pandangan langsung terhadap ancaman yang tidak terlihat oleh orang lain,” kata Matthew Prince, co-founder and CEO, Cloudflare. “Dengan berbagi intelijen ini dengan dunia, kami menutup celah-celah tersebut dan mengembalikan keunggulan kepada para pertahanan. Hasilnya adalah Internet yang lebih aman dan andal, di mana secara fundamental lebih sulit dan mahal bagi para peretas untuk beroperasi.”










