Peretas Otomatiskan Serangan Menurut Check Point

Serangan siber berbasis AI semakin masif dan terorganisir. Organisasi perlu beralih ke strategi keamanan preventif untuk melindungi ruang kerja digital secara menyeluruh.

Pemanfaatan otomatisasi dan AI telah mengubah lanskap serangan siber. Organisasi di seluruh dunia kini menghadapi rata-rata hampir 2.000 serangan siber setiap minggu per organisasi. Angka ini meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun lalu.

Pelaku kejahatan siber tidak lagi mengandalkan metode manual. Mereka memanfaatkan sistem otomatis berbasis AI untuk mempercepat pencurian data, eksploitasi celah keamanan, dan distribusi serangan secara lebih terarah.

Akses terhadap teknologi ini juga semakin luas. Kemampuan yang sebelumnya hanya dimiliki kelompok peretas besar kini dapat digunakan oleh pihak yang lebih kecil, sehingga skala dan frekuensi serangan terus meningkat.

Menghadapi kondisi tersebut, organisasi perlu memperkuat fondasi keamanan digital. Pendekatan reaktif yang hanya merespons setelah insiden terjadi sudah tidak lagi memadai.

Strategi keamanan modern harus mampu melindungi seluruh ruang kerja digital, mulai dari email, peramban web, aplikasi kerja, hingga sistem pencetakan dan perangkat yang terhubung ke jaringan.

Pemantauan penggunaan generative AI di lingkungan kerja juga menjadi perhatian khusus untuk mencegah kebocoran data sensitif akibat kesalahan penggunaan oleh karyawan.

“AI mengubah mekanisme serangan siber, bukan hanya volumenya,” kata Lotem Finkelstein, VP of Research, Check Point Software. “Kami melihat penyerang beralih dari operasi manual murni ke tingkat otomatisasi yang semakin tinggi, dengan tanda-tanda awal teknik otonom mulai muncul. Melawan pergeseran ini memerlukan validasi ulang fondasi keamanan untuk era AI dan menghentikan ancaman sebelum mereka dapat menyebar.”

Teknologi keamanan yang terintegrasi memungkinkan pemantauan terpusat atas seluruh aset data, baik di data center internal maupun layanan cloud, sehingga ancaman dapat terdeteksi lebih dini.