Survei Gartner pada Agustus 2025 menunjukkan prioritas CFO menuju 2026 didominasi optimalisasi biaya dan akurasi forecasting, sementara kebutuhan mendanai pertumbuhan tetap kuat. Namun, kepercayaan diri CFO terhadap dampak AI dan talenta digital masih rendah, memunculkan risiko baru bagi kinerja keuangan.
Menjelang 2026, Chief Financial Officer (CFO) berada di persimpangan yang tidak nyaman dengan kondisi perusahaan menuntut penghematan cepat, tetapi pada saat yang sama berharap investasi untuk pertumbuhan tetap berjalan. Dalam lingkungan bisnis yang tidak stabil, CFO harus menjaga disiplin biaya sambil meningkatkan kelincahan dalam membuat prakiraan keuangan yang lebih akurat.
Survei Gartner terhadap lebih dari 200 CFO pada Agustus 2025 memperlihatkan bahwa tema konservatisme finansial mendominasi daftar prioritas. Fokus utamanya adalah memperkuat ketahanan keuangan dan memitigasi risiko penurunan, bukan mengambil taruhan agresif di tengah ketidakpastian.
Prioritas paling sering muncul adalah mencapai target optimalisasi biaya di seluruh perusahaan. Sebanyak 56% CFO menempatkannya dalam lima prioritas teratas, menegaskan dorongan untuk membuat organisasi tetap ramping dan kompetitif.
Di urutan berikutnya, 51% responden memasukkan peningkatan akurasi dan kualitas prakiraan keuangan dalam lima prioritas teratas. Ini mencerminkan kebutuhan CFO akan visibilitas yang lebih andal untuk mengambil keputusan saat kondisi pasar mudah berubah.
“Para CFO sedang menghadapi lingkungan yang kompleks dan tidak stabil, di mana mereka perlu menjaga kendali ketat atas biaya dan lebih fleksibel dalam peramalan keuangan,” kata Dennis Gannon, Vice President Analyst in the Gartner Finance practice. “Tema-tema yang berfokus pada penguatan kekuatan keuangan dan mitigasi risiko penurunan merupakan prioritas utama di antara lima prioritas teratas bagi para CFO menjelang tahun 2026.”
Gartner juga mengingatkan bahwa penekanan berlebihan pada pemotongan biaya memiliki risiko. Investor kerap memandang pengurangan biaya secara skeptis bila tidak berkelanjutan karena dapat mengganggu kemampuan bisnis untuk bertumbuh dan berdiferensiasi. CFO yang mampu menciptakan optimalisasi biaya yang bertahan lama biasanya membangun budaya sadar biaya yang menekankan transparansi, rasa kepemilikan, dan literasi finansial pada para pengambil keputusan, sekaligus mengarahkan belanja pada area yang benar-benar membedakan bisnis.
AI dan Talenta Masih Jadi Titik Lemah
Survei yang sama menyoroti kekhawatiran yang meningkat pada AI, transformasi digital fungsi keuangan, dan talenta. Hanya 36% CFO yang menyatakan percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam mendorong dampak AI di tingkat perusahaan, meskipun investasi AI di berbagai fungsi terus meningkat. Kondisi ini dipandang sebagai risiko bagi kinerja keuangan masa depan jika tidak segera ditangani.
Lebih lanjut, hanya 44% CFO merasa yakin dapat mempercepat pemanfaatan AI di area keuangan, dan hanya 42% yang percaya diri terhadap kemampuan mereka merekrut serta mempertahankan talenta digital untuk peran-peran finance. Menurut Gannon, rendahnya tingkat kepercayaan ini merupakan “wake-up call” bagi para pemimpin keuangan.
Sebagai respons, Gartner menyarankan pendekatan dua jalur. Jalur pertama adalah memanfaatkan AI yang sudah tertanam di perangkat lunak vendor untuk memperoleh perbaikan cepat. Jalur kedua adalah membangun fondasi jangka panjang berupa budaya, tata kelola, dan keterampilan yang dibutuhkan agar AI benar-benar menghasilkan nilai. Gartner juga menekankan CFO tidak bisa hanya berfokus pada proses dan teknologi sambil berharap talenta digital muncul dengan sendirinya. Target talenta harus dihubungkan secara eksplisit dengan tujuan transformasi dan diterjemahkan menjadi rencana aksi yang jelas.










