Melihat kembali tahun 2025, dunia teknologi nyaris hanya dipenuhi oleh dua hal: AI dan keamanan siber.
Dari berbagai berita yang Netpublik dapatkan serta hasil perbincangan langsung dengan para tech leader, AI menjadi andalan setelah cukup lama teknologi yang berkaitan langsung dengan bisnis mengalami kekeringan semangat inovasi.
Apalagi kini AI memiliki antarmuka yang bisa langsung digunakan oleh semua kalangan. Anthropic bahkan mencatat AI sebagai teknologi dengan tingkat implementasi paling cepat dalam sejarah.
Namun, apakah bisnis benar-benar siap menyambut AI? Ada perusahaan yang menerapkan langkah strategis untuk memasukkan AI ke dalam alur kerja. Namun, tidak sedikit pula yang gagal.
Kenyataannya, AI bukan solusi yang bisa langsung bekerja. Tidak seperti Microsoft Word yang bisa langsung menggantikan mesin ketik, AI tidak bisa dilempar begitu saja lalu meminta karyawan untuk langsung memakainya.
Dari hampir semua tech leader yang kami temui, satu pesan selalu muncul: tujuan harus jelas. Tanpa tujuan, AI justru bisa menjadi beban. Mulai dari masalah apa yang ingin diselesaikan, sebaiknya dimulai dari skala kecil, lalu dikembangkan.
Langkah lain yang wajib dilakukan perusahaan adalah melatih karyawan agar mampu menggunakan AI secara tepat. Alur kerja juga perlu didefinisikan kembali, di titik mana AI seharusnya berperan.
Pekerjaan rumah berikutnya adalah mengkonsolidasikan data agar sistem dapat terus-menerus belajar. Dari sisi data, juga harus ada pengawasan ketat untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi.
Namun, banyak perusahaan yang terburu-buru ingin menyandang status AI-ready. Tujuan tidak jelas, elemen pendukung tidak digerakkan secara harmonis. Hasilnya pun sering kali jauh dari harapan.
Yang lebih mengkhawatirkan, AI juga membuka celah keamanan baru. Infrastruktur bukan hanya perlu dirombak, tetapi juga membutuhkan pendekatan ketahanan yang baru.
Kriminal siber kini berbondong-bondong mengeksploitasi celah tersebut. Ransomware masih menjadi mimpi buruk yang belum sepenuhnya selesai, sementara ancaman baru mulai muncul, seperti data yang dikotori dan dimanipulasi.
Generative AI menjadi senjata baru bagi para hacker untuk melancarkan serangan. Mereka bahkan mulai memanfaatkan AI agent untuk menjalankan kampanye serangan skala besar tanpa pengawasan manusia.
Mata dunia bisnis pun semakin terbuka. Pelajaran utama dari 2025: AI memang menjanjikan, tetapi implementasinya menuntut kehati-hatian. Dan satu hal lain menjadi semakin jelas dibutuhkan AI untuk melawan AI.










