Indonesia Optimis AI Amankan Pekerjaan

Survei PwC menunjukkan pekerja yang menggunakan AI setiap hari merasakan peningkatan produktivitas, keamanan kerja, dan gaji. Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat optimisme tertinggi terhadap teknologi ini.

Meskipun AI sering dikaitkan dengan kekhawatiran hilangnya pekerjaan, survei terbaru PwC menunjukkan bahwa banyak pekerja justru melihat AI sebagai alat yang memperkuat karier mereka.

Dalam laporan Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025, PwC menemukan bahwa pekerja yang menggunakan AI setiap hari melaporkan manfaat nyata dalam pekerjaan mereka. Secara global, mayoritas pengguna harian AI mengalami peningkatan produktivitas, rasa aman terhadap pekerjaan, serta peluang pendapatan yang lebih baik.

Indonesia bahkan menunjukkan tren yang lebih kuat dibandingkan rata-rata global. Sebanyak 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI setiap hari menyatakan produktivitas mereka meningkat. Selain itu, 82 persen merasa keamanan pekerjaan mereka membaik, dan 72 persen melaporkan kenaikan kompensasi atau gaji.

Namun, pemanfaatan AI secara intensif masih relatif terbatas. Secara global, hanya sekitar 14 persen pekerja yang menggunakan generative AI setiap hari, meskipun lebih dari setengah responden telah mencoba teknologi tersebut dalam setahun terakhir.

Menata Ulang Cara Kerja

PwC menekankan bahwa manfaat AI tidak akan maksimal jika perusahaan hanya berfokus pada pelatihan teknologi. Organisasi juga perlu mendesain ulang cara kerja agar kolaborasi antara manusia dan mesin dapat berjalan lebih efektif.

Pete Brown, PwC Global Workforce Leader, mengatakan, “Karyawan yang menggunakan AI setiap hari menikmati manfaatnya produktivitas yang lebih tinggi, keamanan kerja yang lebih baik, dan gaji yang lebih baik. Namun, untuk memperluas manfaat ini, perusahaan harus melampaui pelatihan. Pekerjaan itu sendiri perlu dirancang ulang, dan kemitraan manusia-mesin perlu didefinisikan ulang. Kesuksesan dalam hal ini akan menentukan apakah GenAI menjadi mesin pertumbuhan dan inklusi yang sejati, atau kesempatan yang terlewatkan.”

Selain teknologi, budaya organisasi juga memainkan peran penting dalam transformasi ini. Survei PwC menunjukkan bahwa banyak pekerja di Indonesia memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, yang membantu tim lebih terbuka dalam mencoba pendekatan baru.

Dengan dukungan pelatihan yang merata dan lingkungan kerja yang mendorong eksperimen, AI berpotensi menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Perusahaan yang mampu menyeimbangkan teknologi dan pengembangan talenta diperkirakan akan lebih siap menghadapi perubahan ekonomi digital di masa depan.